Sabtu, 17 Maret 2012

SANG BAGINDA


Kubuat beberapa halaman ini bukan berarti kutak mampu tuk bercerita kepada sang pangeran dan sang putri, tapi kutulis karena kutahu bahwa hanya ini yang mampu menjadi sebuah catatan sejarah yang tak akan di bicarakan orang kelak, yang akan terdengar membosankan. Tapi inilah kami wahai sang baginda, orang-orang yang kerjanya hanya pengobral intlektual yang tak kenal bayaran, yang orang-orang mengatakan tak tahu diri, orang-orang yang kolot, bodoh, dan tak mau untung. Tapi kami cukup kenyang dan puas akan apa yang kami lakukan menjadi penjelajah pengetahuan. Kami senana melangkah dari satu tempat ke tempat yang lain hanya tuk mengobral retorika, sedikit malu, dan sedikit tak tahu diri. Ohhh…. Baginda kamipun senang dengan ketidak tahuan diri kami. “kalian memang keras kepala”, “kata sang baginda kepada kami”,. Kamipun tersenyum dan mengatakan itulah kami baginda yang kerasnya batu tak mampu menyaimgi keras kepala kami tuk selalu bergerak. “lantas apa yang kalian dapatkan dari pelatihan yang tak memberikan sedikit keuntungan dan uang kepada kalian”, kata baginda lagi kepada kami, “iyya baginda kami tak dapat untung sama sekali tapi kami masih menyimpan mau yang tak pernah pupus”, lantas apa yang kalian dapat sampai saat ini, negeri Bin-Atang ini tidak berubah juga”, baginda mengatakan dengan sedikit suara keras”. Kami pun tersenyum sendu dan mengatakan..”wahai baginda kami hanya ingin mengajak sang embun kami untuk tidak seperti baginda”. Baginda kemudian bingung dan hari-harinya dipenuhi pertanyaan tentang kediriaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar