Kubuat beberapa halaman ini bukan berarti kutak
mampu tuk bercerita kepada sang pangeran dan sang putri, tapi kutulis karena
kutahu bahwa hanya ini yang mampu menjadi sebuah catatan sejarah yang tak akan
di bicarakan orang kelak, yang akan terdengar membosankan. Tapi inilah kami
wahai sang baginda, orang-orang yang kerjanya hanya pengobral intlektual yang
tak kenal bayaran, yang orang-orang mengatakan tak tahu diri, orang-orang yang
kolot, bodoh, dan tak mau untung. Tapi kami cukup kenyang dan puas akan apa
yang kami lakukan menjadi penjelajah pengetahuan. Kami senana melangkah dari
satu tempat ke tempat yang lain hanya tuk mengobral retorika, sedikit malu, dan
sedikit tak tahu diri. Ohhh…. Baginda kamipun senang dengan ketidak tahuan diri
kami. “kalian memang keras kepala”, “kata sang baginda kepada kami”,. Kamipun
tersenyum dan mengatakan itulah kami baginda yang kerasnya batu tak mampu
menyaimgi keras kepala kami tuk selalu bergerak. “lantas apa yang kalian
dapatkan dari pelatihan yang tak memberikan sedikit keuntungan dan uang kepada
kalian”, kata baginda lagi kepada kami, “iyya baginda kami tak dapat untung
sama sekali tapi kami masih menyimpan mau yang tak pernah pupus”, lantas apa
yang kalian dapat sampai saat ini, negeri Bin-Atang ini tidak berubah juga”,
baginda mengatakan dengan sedikit suara keras”. Kami pun tersenyum sendu dan
mengatakan..”wahai baginda kami hanya ingin mengajak sang embun kami untuk
tidak seperti baginda”. Baginda kemudian bingung dan hari-harinya dipenuhi
pertanyaan tentang kediriaannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar